mendung mematah langkah bulan, disiluet pilu layar senja, seakan hilang senyap, lalu sekejap kudengar adzan memapahku,... tlah luruh senja, malampun hinggap terbawa deru hujan, keheningan hantar gambaran muram gadisku, masih dalam bisu yang membatu, ataukah senyummu terbawa rinai gerimis?
kularungkan wangi melati tanda maafkudiantara lembut semilir angin mammiri malam ini, kuharap murkamu luruh terbawa deras arus sungai jeneberang..
ditiap ketika, saat nafasku menjelma kertap suara disela nafas, lisan yang tak pernah fasih merapalkan namamu, membaca wajahmu, igauku pun menjadi luka yang menanti kau obati.....
Tampilkan postingan dengan label jatuh cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jatuh cinta. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Februari 2009
Selasa, 23 September 2008
REDUP
diantara dingin
yang hembuskan kenangan
kupagut wajahmu
yang bisu membatu
teruntai makna
menari dipelupuk mata
kutemukan kau
tanpa terdengar lisanmu
seperti dingin
menisik seonggok tulang
surga yang gelisah dikepalaku
meleburkan asa
diantara kuntum-kuntum melati
akh... rupanya takdir tak menepati janji
(malino 06)
yang hembuskan kenangan
kupagut wajahmu
yang bisu membatu
teruntai makna
menari dipelupuk mata
kutemukan kau
tanpa terdengar lisanmu
seperti dingin
menisik seonggok tulang
surga yang gelisah dikepalaku
meleburkan asa
diantara kuntum-kuntum melati
akh... rupanya takdir tak menepati janji
(malino 06)
karena kau Salju dan aku Batu
jingga membakar rindu di kaki barat cakrawala
menenggelamkan resah yang menggantung samar pada kisi-kisi jiwa
diujung kelam
keraguan yang terperangkap malam
wahai engkau sebuah nama yang indah
yang telah kurajah
di wajah
semesta nan megah,
tiga kali sudah
daun akasia meranggas tinggalkan kisah
padanya kuungkap
hasrat, makna dan rahasia hidup
meski hanya hening
dan bayang duka dalam bening tatapku yang tak
bergeming
meski hanya ada bisu
dan desah galau dalam helaan nafasku yang hembus
satu-satu
setia lembayu masih membelai pucuk cemara
seperti aku, pun hanya tersisa raga
di sini, menanti disetiap ketika
untuk meniti rindu yang terbakar
untuk menjawab resah yang masih samar
disaat ranggas akasia
dan tarian pucuk cemara
mengurai helai demi helai asa tersisa
(dipentaskan pada festival puisi cinta 2006)
menenggelamkan resah yang menggantung samar pada kisi-kisi jiwa
diujung kelam
keraguan yang terperangkap malam
wahai engkau sebuah nama yang indah
yang telah kurajah
di wajah
semesta nan megah,
tiga kali sudah
daun akasia meranggas tinggalkan kisah
padanya kuungkap
hasrat, makna dan rahasia hidup
meski hanya hening
dan bayang duka dalam bening tatapku yang tak
bergeming
meski hanya ada bisu
dan desah galau dalam helaan nafasku yang hembus
satu-satu
setia lembayu masih membelai pucuk cemara
seperti aku, pun hanya tersisa raga
di sini, menanti disetiap ketika
untuk meniti rindu yang terbakar
untuk menjawab resah yang masih samar
disaat ranggas akasia
dan tarian pucuk cemara
mengurai helai demi helai asa tersisa
(dipentaskan pada festival puisi cinta 2006)
Senin, 15 September 2008
lima belas ramadhan
telah kusempurnakan separuh bulan seiring sempurnanya bentuk purnama semalam.. namu ada yang kian terasa asing dihariku. bukan pada bumi yang kupijak, bukan pada langit, pada bintang atau bulan yang beranjak.
aaaaakkkhh... ke"tiada"anmulah yang membuatku mengutuki setiap lembar takdirku itu.
sang waktu, berhentilah sesaat! mari kita beristirahat. begitu berat keranda sesal yang kuusung sendirian. aku ingin merenung sejenak. kembali ke warna-warni kisah yang kupendam dimasa lalu.. rayuan yang senantiasa kutulis dipenghujung malam atau pertengkaran yang kusembunyikan diremang senja. dan semua yang telah kujejak dengan telapak kakiku yang penuh gores ... manis dan pahit.. senyum yang kuukir dan kuhembuskan dalam setiap lelap mimpinya, ataupun gerimis, hujan dan anak sungai yang kualirkan dari sudut matanya.....
waktu.. mari kita teruskan perjalanan ini meretas setapak puisiku yang belum terselesaikan.. tapi tolong perlahanlah sedikit.. tubuhku masih agak letih atas pengembaraan jiwaku.
kini ia telah jauh... jangan khawatir aku mungkin akan baik-baik saja dengan ketidakhadirannya. ia masih ada disini, diruang terdalam hatiku, tempat teristimewa yang takkan semua orang bisa menempatinya.. masih kulihat senyumnya dibias purnama, teduh wajahnya di akhir senja, bening tatapnya pada kejora, merdu suaranya pada lembayu, lembut belainya dalam hujan, dan airmata yang ia titipkan pada embun..
SERUNIKU.. jika kelak aku menemukanmu kembali, ingin kubangun lagi mimpi retak yag menyisakan remah-remah sesalanku... kalaupun kau enggan datang dan singgah kan kusimpan kisahmu dihalaman terindah perjalanan hidupku... "terimakasih" karena dengan kepergianmu aku telah mengerti arti kehadiran.........
aaaaakkkhh... ke"tiada"anmulah yang membuatku mengutuki setiap lembar takdirku itu.
sang waktu, berhentilah sesaat! mari kita beristirahat. begitu berat keranda sesal yang kuusung sendirian. aku ingin merenung sejenak. kembali ke warna-warni kisah yang kupendam dimasa lalu.. rayuan yang senantiasa kutulis dipenghujung malam atau pertengkaran yang kusembunyikan diremang senja. dan semua yang telah kujejak dengan telapak kakiku yang penuh gores ... manis dan pahit.. senyum yang kuukir dan kuhembuskan dalam setiap lelap mimpinya, ataupun gerimis, hujan dan anak sungai yang kualirkan dari sudut matanya.....
waktu.. mari kita teruskan perjalanan ini meretas setapak puisiku yang belum terselesaikan.. tapi tolong perlahanlah sedikit.. tubuhku masih agak letih atas pengembaraan jiwaku.
kini ia telah jauh... jangan khawatir aku mungkin akan baik-baik saja dengan ketidakhadirannya. ia masih ada disini, diruang terdalam hatiku, tempat teristimewa yang takkan semua orang bisa menempatinya.. masih kulihat senyumnya dibias purnama, teduh wajahnya di akhir senja, bening tatapnya pada kejora, merdu suaranya pada lembayu, lembut belainya dalam hujan, dan airmata yang ia titipkan pada embun..
SERUNIKU.. jika kelak aku menemukanmu kembali, ingin kubangun lagi mimpi retak yag menyisakan remah-remah sesalanku... kalaupun kau enggan datang dan singgah kan kusimpan kisahmu dihalaman terindah perjalanan hidupku... "terimakasih" karena dengan kepergianmu aku telah mengerti arti kehadiran.........
Kamis, 04 September 2008
bahasa cinta (taken from Jamastun)
cinta selalu berbicara dengan bahasanya
bahasa yang kadang begitu sulit untuk diterjemahkan manusia
begitu sulit untuk dipahami
maka seperti itu pulalah cinta kita yang terkunci
tak ada yang mampu memahaminya
sebab mereka yang ada diluar sana
tak pernah bisa menemukan kuncinya
kita selalu yakin bahwa cinta kita tak bisa diusik
kita juga selalu yakin bahwa cinta selalu keluar sebagai pemenang
sebab cinta memiliki kekuatan
cinta memiliki segala yang diperlukannya untuk perlindungan
namun, ketika kita mendapati cinta kita kalah, masihkah kita yakin akan kekuatannya
masihkah ada harapan untuk memenangkannya
aku telah mencoba bertahan demi satu harapan yang tersisa
harapan untuk kembali bertemu denganmu kelak
menata lagi kebersamaan kita
namun jika pada akhirnya
kita sama-sama mendapati diri kita dalam kenyataan yang berbeda
haruskah kita saling berburuk sangka
atau ketika kita mendapati semua orang menghalangi langkah kita
haruskah kita menyerah tanpa sebuah usaha
dulu kau pernah mengatakan bahwa
ketulusankulah yang paling kau kagumi
sebagaimana aku sangat mengagumi kesederhanaanmu
pada saat itu kau begitu yakin bahwa aku adalah anugerah terindah bagimu
sebagaimana aku yakin bahwa kau adalah yang terbaik bagiku
lalu ketika takdir akhirnya lebih berhak untuk bicara
haruskah kita menjadikan Tuhan sebagai tersangka
berulangkali kucoba meyakinkan diri
bahwa aku telah kehilanganmu
akupun telah mencoba menerima kenyataan
bahwa inilah yang terbaik buat kita
namun, semua itu tidak semudah mengatakannya
cinta yang mengikat hatiku seperti patri keabadian
memasungku untuk tidak beranjak dari satu keyakinan
bahwa hatiku tetap memilihmu....
seruniku................................................
bahasa yang kadang begitu sulit untuk diterjemahkan manusia
begitu sulit untuk dipahami
maka seperti itu pulalah cinta kita yang terkunci
tak ada yang mampu memahaminya
sebab mereka yang ada diluar sana
tak pernah bisa menemukan kuncinya
kita selalu yakin bahwa cinta kita tak bisa diusik
kita juga selalu yakin bahwa cinta selalu keluar sebagai pemenang
sebab cinta memiliki kekuatan
cinta memiliki segala yang diperlukannya untuk perlindungan
namun, ketika kita mendapati cinta kita kalah, masihkah kita yakin akan kekuatannya
masihkah ada harapan untuk memenangkannya
aku telah mencoba bertahan demi satu harapan yang tersisa
harapan untuk kembali bertemu denganmu kelak
menata lagi kebersamaan kita
namun jika pada akhirnya
kita sama-sama mendapati diri kita dalam kenyataan yang berbeda
haruskah kita saling berburuk sangka
atau ketika kita mendapati semua orang menghalangi langkah kita
haruskah kita menyerah tanpa sebuah usaha
dulu kau pernah mengatakan bahwa
ketulusankulah yang paling kau kagumi
sebagaimana aku sangat mengagumi kesederhanaanmu
pada saat itu kau begitu yakin bahwa aku adalah anugerah terindah bagimu
sebagaimana aku yakin bahwa kau adalah yang terbaik bagiku
lalu ketika takdir akhirnya lebih berhak untuk bicara
haruskah kita menjadikan Tuhan sebagai tersangka
berulangkali kucoba meyakinkan diri
bahwa aku telah kehilanganmu
akupun telah mencoba menerima kenyataan
bahwa inilah yang terbaik buat kita
namun, semua itu tidak semudah mengatakannya
cinta yang mengikat hatiku seperti patri keabadian
memasungku untuk tidak beranjak dari satu keyakinan
bahwa hatiku tetap memilihmu....
seruniku................................................
Senin, 01 September 2008
catatan 1 Ramadhan
masih terasa berat kubuka mata saat kulangkahkan kaki menuju sumur untuk membasuh muka. hidangan sahur telah pula tersedia. ayam bakar berbumbu buatan ibuku. entah mungkin karena masih terasa ngantuk atau karena pengaruh gigiku yang masih agak sakit atau karena "hal lain" yang membuatku merasa tidak terlalu menikmat santaoan sahur kali ini...
hari ini tepat dua minggu dua hari sejak kemarahannya, kesalahan fatal dan kebodohan yang terus kuulangi... entah, mungkin kali ini ia merasa sangat sakit hati sekali sehingga untuk memberi ucapan selamat menunaikan ibadah puasapun tidak ada..
kemarin ada banyak pesan singkat yang masuk dalam bentuk ucapan selamat menyambut bulan suci, layaknya tahun-tahun sebelumnya, yang entah ini sebuah ucapan tulus atau sebuah keharusan formalitas... pesan kartu ucapan yang kini telah tergantikan teknologi yang "uptodate"...
hingga senja pamit meninggalkan peraduannya dikaki barat cakrawala, aku masih saja tidak bisa menenangkan diri, pesan permohonan maaf yang kukirim untuknya masih saja dilaporkan pending... padahal itu kukirim dua hari sebelumnya..
telah beratus kali kucoba menghubunginya, namun ponsel yang ia gunakan tidak pernah aktif, saya masih bisa menghalau pikiran-pikiran negatif yang terkadang datang mengusik pikiranku...
mungkin saja ia sedang di luar kota dan tidak mendapatkan sinyal.... tapi apa iya??? kembali keraguan meracuniku.....
dulu kejujurankulah yang ia sangat puja seperti aku mengagumi keberanian dan kesederhanaannya... hingga di suatu senja yang entah Tuhan sedang mencoba mengingatkanku.. aku melakukan sebuah kesalahan yang membuatnya menarik kembali semua kepercayaan yang dia berikan kepadaku....
dimanapun ia aku ingin sekali menggenggam jemari, menyentuh pipinya dan berbisik maaf yang tulus..... bahkan rela kumaharkan jiwaku untuknya......
agar bisa kulalui ramadhan ini dengan senyum......
(to L my DOLPHIN)
hari ini tepat dua minggu dua hari sejak kemarahannya, kesalahan fatal dan kebodohan yang terus kuulangi... entah, mungkin kali ini ia merasa sangat sakit hati sekali sehingga untuk memberi ucapan selamat menunaikan ibadah puasapun tidak ada..
kemarin ada banyak pesan singkat yang masuk dalam bentuk ucapan selamat menyambut bulan suci, layaknya tahun-tahun sebelumnya, yang entah ini sebuah ucapan tulus atau sebuah keharusan formalitas... pesan kartu ucapan yang kini telah tergantikan teknologi yang "uptodate"...
hingga senja pamit meninggalkan peraduannya dikaki barat cakrawala, aku masih saja tidak bisa menenangkan diri, pesan permohonan maaf yang kukirim untuknya masih saja dilaporkan pending... padahal itu kukirim dua hari sebelumnya..
telah beratus kali kucoba menghubunginya, namun ponsel yang ia gunakan tidak pernah aktif, saya masih bisa menghalau pikiran-pikiran negatif yang terkadang datang mengusik pikiranku...
mungkin saja ia sedang di luar kota dan tidak mendapatkan sinyal.... tapi apa iya??? kembali keraguan meracuniku.....
dulu kejujurankulah yang ia sangat puja seperti aku mengagumi keberanian dan kesederhanaannya... hingga di suatu senja yang entah Tuhan sedang mencoba mengingatkanku.. aku melakukan sebuah kesalahan yang membuatnya menarik kembali semua kepercayaan yang dia berikan kepadaku....
dimanapun ia aku ingin sekali menggenggam jemari, menyentuh pipinya dan berbisik maaf yang tulus..... bahkan rela kumaharkan jiwaku untuknya......
agar bisa kulalui ramadhan ini dengan senyum......
(to L my DOLPHIN)
Kamis, 28 Agustus 2008
sepertiga malam
daun jendela yang sedikit terkuak itu seperti menawarkan bermacam aroma pada mata pria itu, seolah angin yang menari menghembus wajahnya itu memanggil-manggil jiwanya untuk terbang menerobos jendela, menuju malam yang membentangkan pelukan untuknya. telah begitu lama ia semaikan duka cita sendirian. angannya terpaut dalam takjub pada tatapan yang menikam jantungnya, bias mata dimana dimana TUHAN telah menitipkan kejora, wajah teduh seperti langit biru tempat awan-awan putih bertahta, senyum yang memberinya arti hidup yang sebenarnya, gerak yang jejakkan lukisan-lukisan nirwana. bulan teiris separuh menyisakan bias-bias cahaya tak sempurna, seperti juga ia yang telah melarungkan separuh hati pada sosok berambut mayang yang tergerai sebahu itu, jauh diujung gemintang. mungkin bukan setengah justru, mungkin seluruh hatinya telah pula ia gantungkan sepenuhnya pada jaring-jaring rapuh yang ia jalin untuk sepasang mata yang membening telaga itu. kalaupun keresahan serupa juga dirasakan perempuan itu, mengapa hanya ia saja yang selalu setia menjemput malam dan menyapa rembulan yang kesepian dengan segaris senyuman? ia tidak sedang mengutuki keresahannya, namun bagaimanapun kesemua jalinan hidupnya adalah setapak yang harus dilalui oleh sepasang kakinya yang ringkih, dan masih ia sandarkan harapnya malam yang tak bertepian.. karena ia yakin, menunggu punya tujuan yang mulia dan misterius............ esok mungkin matahari pautkan mimpi pada larik-larik cakrawala dan awan merajut rindu memintal indah warna pelangi.....
Langganan:
Postingan (Atom)